Di kota inilah Ibuku Dan ayahku lahir , Keluargaku termasuk suku sunda, suku yang memegang teguh sopan dan santun.
Namaku Syahreza, lahir di Cimahi, dan saat ini masih sekolah kelas 11.Pada cerita liburan kali ini aku Berkurban di Garut, karena tahun lalu kami di Bandung, “Biar Adil,” ucap Ayah kala itu.
Aku tiba di kota ini, sekitar pukul 18.23 WIB, kami disambut dengan suara yang menggema, yaitu takbir yang membuat hatiku luluh dengan lantunanya. Tidak disangka, kakek dan nenek sudah menanti kami dan membuka pintu gerbang.
“Eh, si ujang parantos sumping,” suara itu begitu khas, sehingga aku tidak akan lupa sampai kapanpun, logat bahasa sudah yang begitu kental tapi tetap nyaman didengar.
Arti kalimat di atas adalah “Eh, cucuku sudah datang”
Begitulah cara Nenek dan Kakek menyambut kami, yang selalu aku nantikan ketika sudah mendekati kota ini. Entah apa rasanya jika mereka berdua sudah tiada.
Pagi itu,…
Semua sudah bergegas untuk pergi ke masjid, “Ayah, kenapa tidak memakai baju koko baru?” tanya Ibuku kepada Ayahnya, yaitu Kakekku.
“Ah tidak apa-apa, Ayah mau memakai baju ini saja” jawab Kakekku yang tidak ingin menggunakan baju baru dan menjadi perhatian banyak orang. “ Orang sini, jika melihat pakain baru, suka gimana gitu” tambahnya.
“Tidak ada salahnya, kenapa tidak menggunakan baju baru,” pikirku, “Toh kita punya, bukan memaksakan diri untuk membeli,” tapi, itulah Kakek yang tidak ingin pamer katanya.
Selesai Sholat Ied, kami melihat proses pemotongan hewan kurban, kebetulan prosesinya ada di depan halaman rumah kami. Semua orang sudah bersiap-siap, ada yang mempertajam golok (ngasah), ada yang mempersiapkan tempat untuk daging yang akan dibagikan.
Semua bergotong royong, karena itulah intinya kurban, berbagi kepada sesama, sehingga semua orang hari itu dapat merasakan makanan dan daging yang sama. Itulah cara Islam memberikan manfaat kepada semua umat manusia.
“He, kamu siap-siap ya, sapi besar yang penuh dengan daging!,” ucapan itu keluar dari orang yang sedang menajamkan golok yang akan digunakan untuk memotong sapi kurban keluarga kami.
“Heh! jangan seperti itu, itu sama saja kamu menyakiti perasaanya!,” Tegur, Kakak yang sedang duduk meminum kopi pagi miliknya yang belum habis. “Kamu tahu kenapa banyak hewan kurban yang berontak, itulah alasannya,” tambahnya.
“Mohon maaf, iya saya mengaku salah, Kek” Orang itu meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi.
Tugasku adalah mendata dan memotong daftar nama warga yang ada di sana, kemudian menempelkannya di plastik yang sudah terisi dengan daging kurban.
Ibuku dan tetangga yang lain, bergegas memasak daging untuk diberikan kepada orang-orang yang ikut membantu pada waktu itu, semua berlangsung dengan aman dan tenteram, tidak ada satu pun warga yang tidak kebagian.
Pukul 19.00 WIB kami kembali ke Jakarta, tujuannya agar tidak panas di jalan, karena terkadang suka macet di jalannya.